
Oleh: Dr. Ponimin, M.Hum.
Keakraban terhadap lingkungan dan pengalaman berkarya merupakan faktor penting bagi pelaku kriya seni. Kedua faktor tersebut dapat mendorong ide-ide inovatif dan praktik kreatif dalam mewujudkan karya. Penghayatan dan pemahaman terhadap lingkungan dapat menimbulkan momen estetik untuk bekal membangun konsep penciptaan berkarya. Pengalaman pribadi berkaitan dengan penguasaan teknik mengolah dan membentuk material berkarya seni. Sehingga kedua faktor tersebut akan tercermin melalui wujud akhir dari gagasannya. Pengalaman teknis dapat memperkuat dalam mengeksekusi idenya guna menghasilkan karya kriya yang berkarakteristik.
Pelaku kriya seni dalam menghadapi lingkungan di sekitarnya untuk diolah menjadi ide kreatif ke dalam bentuk atau wujud akan melakukan serangkain proses, yakni penggalian, perenungan, kontemplasi, eksplorasi, dan merepresentasi atau pun menginterpretasinya. Sesuatu yang dihayati dari lingkungan, yang menjadi bagian kehidupannya untuk diwujudkan menjadi karya. Untuk mempresentasikan atau pun menginterpretasi ke dalam wujud, mereka membutuhkan perlakuan teknis yang dicapai melalui pengkondisian. Pengkondisian dalam membangun dan memperkuat skill (Tabrani, 2000:24).
Sumber Ide dan Pengalaman Teknik
Gagasan karya yang timbul dari kepekaan estetik penciptaan seni kriya terhadap lingkungan dan menggelisahkannya yang mendorong ide penciptaan diolah menjadi bentuk karya. Pengungkapan melalui material dan teknik tertentu, adalah sebagai upaya kreatif untuk merealisasi ide yang dihayati dan dieksplorasi melalui, eksperimentasi bentuk, bahan, teknik, dan dilanjutkan proses pembentukan karya. Kegiatan ini membutuhkan kepekaan estetik, kecerdasan, keberanian, dan kebebasan. Selanjutnya melakukan proses eksplorasi terhadap rencana media pengungkap gagasan kreatifnya menjadi wujud karya kriya.
Seperti yang penulis alami, bahwa dalam menggali gagasan ide penciptaan, ide penciptaan itu terdapat di sekitar kita. Yakni berupa peristiwa ataupun hal-hal lain yang mampu mendorong potensi kreatif, ketika fenomena yang ada di lingkungan penulis dapat dihayati dan diolahnya dengan pertimbangan kemampuan teknis yang dikuasai (Marianto M. Dwi, 2011:149). Sebagai contoh yang penulis rasakan. Penulis merupakan keramikus dan juga penggemar pertunjukan wayang topeng Malang. Kisah percintaan Panji Asmarabangun yang penulis gandrungi dan menggelisahkan. Kegandrungan terhadap objek/subjek tersebut memberi pengalaman berharga dan dapat menginspirasi dalam berkarya keramik seni. Pengalaman menghayati sumber ide dikaitkan dengan pengalaman menggeluti material tanah liat dan teknik penggarapan dengan segala karakteristiknya. Sumber ide kreatif dari lingkungan oleh penulis didalami lebih intens untuk menemukan momen-momen estetik yang dapat mendorong kreativitas dikaitkan dengan pengalaman membentuk tanah liat menjadi bentuk tertentu. Keakraban terhadap tanah liat yang terdiri dari unsur-unsur bahan keramik dengan segala karakteristiknya, sebagai modal melakukan eksplorasi dengan berbagai alternatif. Berbagai eksplorasi bentuk, teknik pengolahan bahan keramik, pembentukan karya keramik, hingga proses pembakaran. Proses eksplorasi bertujuan untuk memperoleh pengalaman teknis tentang sifat material tersebut untuk media ungkap dalam memaknai ‘esensi karya keramik
dikaitkan dengan makna tertentu’ (Tabrani, 2000: 25).
Penghayatan terhadap lingkungan sebagai sumber ide dan pengalaman dalam penguasaan teknis berkarya diharapkan dapat memberi bobot dari hasil ungkapan kreatif yang dicapai melalui proses berkarya keramik.
Metode Kreatif
Penciptaan kriya seni membutuhkan metode yang dapat dipakai memecahkan persoalan penciptaan. Metode tersebut merupakan pedoman serangkaian proses berkarya yang dimulai dari penggalian ide, membangun konsep karya, hingga proses mengeksekusi ide menjadi karya. Metode tersebut berupa metode kreatif yang berisi langkah-langkah proses penciptaan. Terdapat beberapa sumber metode terkait dengan langkah-langkah proses penciptaan seni yang dikemukakan oleh beberapa pakar. Metode tersebut dapat sebagai pembanding ataupun dikembangkan dalam penciptaan karya seni kriya yang pernah dilakukan. David Campbell menjelaskan, bahwa metode penciptaan berisi tahapan penciptaan. Meliputi persiapan (preparation): meletakkan dasar penciptaan dan mempelajari latar belakang masalah ide penciptaan. Konsentrasi (concentration): masuk luluh dalam subjek penciptaan (subjek matter). Inkubasi (incubation): mengambil jarak dengan subjek matter, dengan melakukan tahap pematangan dalam ide. Iluminasi (illumination): menemukan momen-momen estetik dan dengan berbagai kemungkinan ide kreatif dari proses penggalian gagasan, cara penyelesaian baru, cara kerja baru (1986:18-24).
Metode penciptaan yang pernah penulis kembangkan dan terapkan dalam penciptaan karya keramik, meliputi (a) tahap persiapan, meliputi: penggalian, pendalaman, penghayatan, pemahaman sumber ide, membangkitkan momen-momen estetik yang dipicu dari pendalaman sumber ide berdasarkan pengalaman berkarya menggeluti bentuk dan material berkarya seni. Hasil penghayatan, pemahaman subjek/sumber ide sebagai dasar dan pengalaman teknis mendorong ide kreatif untuk membangun konsep bentuk karya yang disusun menjadi rumusan konsep penciptaan. (b). Tahap pelaksanaan, meliputi: proses eksplorasi visual (eksplorasi awal), (gambar sketsa alternatif bentuk karya, pemodelan tiga demensi), eksplorasi teknik (eksplorasi lanjut) berupa: pengolahan bahan, pembentukan, ornamentasi, dan pembakaran. (c). Eksplorasi akhir berupa pembentukan karya (pembentukan keramik dengan teknik tangan langsung, atau tak langsung, pengeringan, pembakaran glasir dan non-glasir), penyempurnaan karya. (d) Hasil karya dan penyajian karya. (e) Evaluasi dan analisis hasil karya.
Penciptaan Kriya Keramik Seni
Ide bentuk karya keramik seni merupakan gagasan tentang bentuk karya yang dibangun dari hasil pemahaman, tentang sesuatu subjek ataupun objek yang dianggapnya menarik dan didalami. Ketika sudah mengkristal menjadi ide tertentu, kemudian diwujudkan melalui material tanah liat bakar sebagai upaya kreatif yang terwujud melalui bentuk karya keramik.
Kehadiran bentuk tersebut sebagai sesuatu yang memiliki posisi bersifat independen. Sebagai suatu yang tidak berhubungan langsung terhadap aspek kesejarahan dari sumber ide seni. Hal ini terkait dengan pemikiran Althusser, tentang ideologi. Bahwa ide memiliki faktor independen yang terlepas dari faktor kesejarahannya, yakni sumber ide penciptaan seni (Althusser, 1984:37).
Ide bentuk yang digali dari pemahaman dan ketertarikan tentang sesuatu subjek atau objek, yang diwujudkan menjadi karya keramik adalah upaya untuk merealisasi ide yang dihayati dan dieksplorasi. Proses eksperimentasi bentuk, bahan, teknik, dilanjutkan proses pembentukan karya merupakan pengalaman yang bersifat personal dan akan mewarnai hasil akhir kreatifnya.
Ide bentuk karya terinspirasi dari hasil pendalaman sumber ide yang diakrabi dari lingkungan, diolah menjadi dasar konsep bentuk karya, berupa komposisi visual bidang, garis, warna, tekstur, volume, dan lain-lain yang dicapai melalui proses eksplorasi bentuk dan media berkarya seni keramik (Feldman, 1991:270). Untuk menghasilkan karya dicapai melalui beberapa tahapan. Dimulai dari penggalian, pengolahan sumber ide, eksplorasi teknik dan bentuk, hingga eksekusi bentuk karya.
Ketika konsep bentuk telah terbangun, selanjutnya diperlukan pengalaman dan
kemampuan teknis mengolah media tersebut melalui teknik berkarya. Tahapan mewujudkan diperlukan berbagai eksplorasi media keramik, guna menghasilkan keunikan bentuk karya. Penguasaan teknik menjadi faktor yang penting untuk mewujudkannya. Hal tersebut diharapkan dapat menimbulkan estetik visual dari sebuah karya kriya seni. Tindakan ini adalah proses kreatif yang mampu memperbarui, memperbaiki, atau sama sekali merupakan inovasi. Sehingga pelaku kriya mampu menciptakan nilai-nilai baru, gagasan baru dari pendalaman sumber ide yang ditangkap dari kepekaan lingkungan menjadi bentuk kriya seni (Sachari, 2002:25).
Konsep bentuk karya kriya keramik seni secara keseluruhan dicapai melalui pengolahan: bentuk, material, teknik, ornamentasi, sistem pembakaran, dan penyajian. Munculnya ide kreatif karya yang digali dan dihayati dari kisah asmara tersebut untuk direinterpretasikan melalui bentuk karya keramik, dipandang sebagai “dunia artifisial”, dunia simbol, dunia “metafor”. Metafor merupakan inti dari bahasa seniman dalam menyampaikan gagasan kreatifnya. Metafor memberi kepada filsafat imajinasi kreatif untuk memainkan dan mengembangkan konsep-konsep pemikiran. Cara pandang di pihak lain, metafor memberikan rangsangan imajinasi kreatif sebagai dasar untuk pelestarian dan pembaruan filosofis (Sugiarto, 1996:140).
Ketika mengamati karya-karya keramik kita akan mendapatkan gambaran dari apa yang dipikirkan penciptanya tentang sumber ide serta kekuatan teknis sebagai pengalaman mewujudkan idenya. Sehingga ketika ide itu terwujud akan mendapatkan gambaran terhadap aspek kreatif yang yang pernah dicapai. Aspek kreatif apa yang pernah dicapai oleh mereka memiliki posisi penting yang akan dilakukan berikutnya. Baik terkait dengan konsep isi, bentuk, maupun teknik mewujudkan. Karena gagasan dan pengalaman kreatifnya akan menjadi bekal menghasilkan keunikan serta keunggulan pada karya-karya berikutnya.
Pengalaman ini dapat dipakai dalam mengembangkan sumber ide, selanjutnya akan mewarnai konsep isi ataupun konsep bentuk karyanya. Yakni dapat bersifat presentasional maupun interpretasional, realisme, atau pun simbolisme. Gagasan yang dicapai dari pendalaman atas subjek seni yang telah diakrabi sebagai bagian pengalaman pribadi yang dihayati, dipahami, dan diungkapkan dengan cara berbeda akan menghasilkan pengalaman artistik (Irianto, 2010:12). Misalnya ketika menyimak karya Hendrawan Rianto berupa seni instalasi berbahan terakota, tali, dan bambu. Karya berjudul “loro blonyo”, dalam perwujudannya secara visual sama sekali tidak menggambarkan objek kreatifnya. Karena Hendrawan berangkat dari aspek filosofis tentang hakekat dualitas siang-malam, priawanita, atau bumi-langit. Wujud karyanya yang non- representatif yang menunjukkan keserupaan dari dua bentuk yang menyatu, namun penyatuan keberbedaan dua bentuk itu ditunjukkan melalui ukuran besar dan kecil, atau tinggi dan rendah. Dualitas yang menyatu adalah sebuah dasar dari pola pembentukan pikiran tentang makna ‘sepasang.’ Loro blonyo karya Hendrawan yang bersifat non-representasional tentu tidak menggambarkan objek kreatifnya (sumber idenya). Hal ini menunjukkan pemikiran endrawan yang bersifat filosofis. Ekspresi seorang pencipta seni kontemporer memiliki kebebasan menembus dimensi kesejarahan dan pengalaman menghadapi material (Marianto, M. Dwi, 2015: 89).
Pengamatan terhadap pengalaman berkarya yang lain, yakni terhadap karya F.
Widayanto. Dia berkarya menggunakan teknik pembentukan pijitan tangan. Beliau banyak mengusung tema kasih sayang berbentuk keramik loro blonyo. Gagasan kreatifnya bersumber dari budaya tradisi yang dikreasi ulang secara unik, bermaterial tanah liat stone ware, dan berglasir (Burleson, 2003: 30).
Karya keramiknya tergolong dalam seni patung figuratif dengan menggunakan elemenelemen dekoratif yang dicapai melalui pewarnaan teknik kombinasi glasir kusam. Gagasan kreatifnya yang terinspirasi mitologi Jawa yang diolah secara cermat, sehingga menghasilkan tampilan tekstur permukaan karya yang unik. F. Widayanto merepresentasi karakter-karakter bentuk tersebut melalui media keramik stone ware. Pengalaman beliau terhadap tanah liat dengan teknik pinching serta pengalaman mengolah bentuk figuratif yang dikuasainya menjadikan wujud karyanya akan membawa pada karakter keramiknya. Dia ketika berkarya juga tidak melakukan tindakan kritis terhadap sumber ide. Keunggulan tekniknya justru memperkuat isi dari sumber ide yang diakrabi (yakni tentang kearifan budaya di sekelilingnya). Pengolahan bentuk figuratif yang ornamentik membentuk karakter kuat terhadap presentasi karyanya. Hal ini kurang menunjukan sentuhan emosional, namun penghayatan yang bersifat penegasan.
Pola berkarya ini pernah penulis lakukan pada karya-karya sebagai berikut:
Karya keramik penulis tahun 2009 berjudul ‘Cinta Shinta Tak Pernah Berakhir’. Karya tersebut dibentuk dengan teknik pijitan tangan ke dalam bentuk relief yang mengungkapkan aspek dramatis. Sentuhan emosional dramatis percintaan dikuatkan melalui tampilnya bentuk dua figur manusia laki-laki dan perempuan yang berdampingan, dengan ornamen pilinan yang meriah untuk menggambarkan romantisme Jawa kuno. Kedekatan dua figur (Rama-Shinta) ditransformasi atas dongeng mitologi India-Jawa; mitos tentang cinta abadi. Moralitas Jawa pada masa lalu diukir di dalam lembaran lontar, dan lantunan suara tembang para pujangga. Ungkapan cinta yang dramatis melalui karya ini membutuhkan teknik pijitan natural tanah (lempung) yang disatukan antara material keras dan cair. Medium keramik stoneware dengan finishing glasir untuk memberikan kualitas permukaan lembut dan mengkilat. Sehingga kesan dramatis muncul berupa penyatuan dualitas seperti lantunan tembang kuno para dewa. Membuat ketebalan (dimensional) dan
proporsionalitas yang secara alami menempatkan figur wayang kulit; kurus, tinggi, dan pipih (sebuah bentuk filosofis kesederhanaan), dan ornamentik etnik Jawa. Ornamen mega mendung adalah kepekaan estetik dari apresiasi holistik (penerapan rasa budaya Jawa).
Karya representasional ini menggunakan pendekatan bersifat multi-dimensional, bahkan lintas disiplin estetik. Sastra menjadi kekuatan pendorong visi visual, kinetik menjadi referensi emosional yang membangun jiwa (rasa), bentuk relief candi menjadi dasar rujukan visual, dan kualitas tanah dari sentra kerajinan keramik Dinoyo yang historikal (terjadinya koneksitas masa lalu dan popularitas sentra produktif keramik Dinoyo Malang). Karya ini merepresentasikan kesederhanaan, kedalaman rasa, dan kebersahajaan bahasa cinta yang bersifat universal.
Pengalaman teknis penulis dalam mengolah bentuk dekoratif dengan teknik pijitan tangan dan teknik ornamen pilinan serta goresan tanah liat basah, menjadi modal utama untuk mengungkapkan gagasan yang bersifat representasional tersebut. Tanah liat stoneware Dinoyo dengan kandungan ballclay, felsfart, dan kaolin, menghasilkan tanah liat yang mudah untuk diterapkan dengan teknik pijitan tangan secara langsung. Ketika pembentukan dengan teknik pijitan tidak mengalami keretakan dan kelengketan pada jari-jari penulis. Demikian juga ketika melakukan detail bentuk dan ornamen pilinan tanah liat ini mampu dipilin dengan bentuk lengkungan berukuran sangat kecil. Perlakuan teknis pengungkapan ide menggunakan bahan tersebut tidak memerlukan tingkat kebasahan tanah liat yang terlalu tinggi, karena komposisi unsur material tanah liat di dalamnya mampu menyimpan kandungan air dalam bahan tersebut. Melalui karya ini penulis bermaksud mengungkapkan sebuah keagungan cinta yang bersifat konvensional tentang kesetiaan Shinta kepada Rama.
Pengamatan berikutnya terhadap karya penulis berbentuk patung keramik instalasi berjudul Kekokohan Asmara Panji. Karya ini terbuat dari rangkaian tusukan (sundukan) bulatan-bulatan terakota yang disusun membentuk patung. Karya ini dibuat pada tahun 2014. Wujud karya berupa dua figur manusia laki-laki dan perempuan. Digambarkan bagaikan Panji dan sekartaji sedang menjalin kasih sepanjang hayat. Tematik konvensional ini dikembangkan tampilan visualnya ke wilayah seni futuristik. Sungguh pun masih dalam wilayah konvensional. Bentuk figuratif memasuki wilayah sentuhan dimensional dari patung. Namun penulis tidak ingin menariknya ke wilayah etnik yang diam dan sepi. Getaran emosional dari tampilan figuratifnya ingin mencari kedalaman sentuhan visi masa lalu yang bersifat imajiner, mitologis, dan normatif. Teknik sundukan/untaian manik-manik
dari ribuan bulatan tanah liat adalah suara dari kedalaman etnik yang sepi dan sendiri. Kekuatan rangkaian untaian butiran yang melekat kuat menggambarkan penyatuan nafas percintaan Panji-Sekartaji yang sedang memadu kasih mesra, kuat dan gembira. Tembang liris dari masa Jawa Kuno di penghujung zaman kerajaan Majapahit sudah tidak menarik jika ditarikan secara ruwet dari remaja muda. Kinetiknya hanya menjadi objek mata yang dipacu menyatu dengan objek visual. Ketika diwujudkan dalam bentuk keramik figuratif teknik untaian dari sundukan lempengan dan bulatan tanah ini berusaha memasuki relung kedalaman dari visi cinta abadi yang dihembuskan estetika Hindu. Visi moralitas masa lalu itu memang telah ditinggalkan, namun dalam ranah keramik kreatif dibangkitkan lagi visinya untuk mendapatkan nilai baru. Gambaran kesetaraan gender, konstruksi romantisme masa kini, dan kinetik yang a-simetris membangun emosi kedinamisan. Cinta memang harus agresif, dinamis, dan emosional. Pesan ini yang ingin didorongkan bagi mereka yang ingin menikmati aspek futuristik karya keramik etnik. Gambaran ini merupakan perjalanan kreatif penulis yang berangkat dari lingkungan agraris, merangkak ke wilayah para priyayi masa kini yang menjalin visi masa depan di zaman kemerdekaan, status sebagai pengajar perguruan tinggi seni. Visi edukasi dan historis, etnisitas, dan harapan masa depan sangat kuat ingin dihembuskan kuat-kuat. Sebuah pergulatan cinta yang tak putus hanya sebatas merangkai butiran tanah liat yang dibakar dalam tungku pembakaran keramik.
Contoh karya lain yang pernah penulis ciptakan bersifat reinterpretasional. Karya ini bersumber digali dari ide kisah asmara Panji Asmarabangun. Hasil penghayatan terhadap sumber ide menghasilkan konsep bentuk karya yang tidak mewakili objek benda dari sumber ide tersebut, seperti pada konsep imitasi atau representasi. Bentuk yang tertuang itu merupakan persepsi yang hidup dan mempengaruhi pikiran atas subjek seni. Yakni hasil renungan, kontemplasi, dan usaha memasuki makna subjeknya/makna sumber ide (Finlay, 2009:6). Bentuk yang terwujud menjadi hidup dan menyatu dengan perasaan penulis, sehingga bentuk karya tidak seperti pada realitasnya. Oleh karena itu, elemen dan konstruksi lebih bersifat memberikan dorongan dan kekuatan yang mencerminkan simbolisme bukan realisme. Hal ini seperti yang dipahamkan oleh Devid Matsumoto ‘benda yang kita lihat itu sebenarnya belum tentu nyata dengan yang hadir sebagai realitasnya.’ (Matsumoto, 2000: 60). Penciptaan sesuatu tidak lepas dari pengaruh: hubungan sosial, sejarah, dan keakraban dengan bahasa ungkap yang dimiliki. Pengaruh tersebut dapat tercermin melalui karyanya dalam bentuk peniruan atau sebaliknya dikritik, dapat juga diberi nilai baru, maupun bentuknya dominan, kemungkinan juga bisa hanya bias-bias yang implisit. Sikap itu dilakukan dalam bentuk reinterpretasi. Seperti yang dikemukakan Barthes (1983:192) interpretasi digunakan untuk menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan, dan menata realitas sosial. Prinsip dari teori ini menyadarkan posisi seniman sebagai agen perubahan sehingga apa yang dihasilkan bersifat emansipatoris. Emansipasi bertujuan untuk membebaskan seniman dari struktur yang selalu mengikat. Seniman menyadari hal-hal yang bersifat bangkitnya semangat
untuk mempelajari fenomena lebih mendalam dan alami.
Artinya, penulis menghadirkan bentuk karya keramik itu adalah menggali atas dorongan pikiran untuk mendalami subjek (sumber ide) kemudian menemukan pemahaman baru dari hasil penghayatannya. Terkait penciptaan karya seni ini, penulis ingin menyampaikan gagasan melalui pendalaman terhadap subjek yang telah diakrabi sebagai pengalaman artistik untuk dihayati, dipahami, dan diungkapkan dengan cara berbeda sebagai pengalaman artistik melalui seni keramik (Irianto, 2010:12). Contoh hasil berkarya tersebut berjudul ‘Penyatuan-Keterpisahan’.
Penyajian karya dalam satu set terdiri dari 12 buah. Ukuran masing-masing bentuk karya bervariasi. Ukuran tertinggi ± 90 cm, sedangkan yang terendah ± 25 cm. Terinspirasi dari kisah asmara Panji penuh dengan ambisi untuk menyatu. Namun semua itu pada akhirnya akan terpisahkan juga. Klana Sewandana mencintai Dewi Sekartaji, dan juga Anggraeni yang dicintai Panji Asmarabangun; merupakan cinta dalam imajinasi yang berakhir dengan kekosongan. Demikian juga asmara Panji terhadap Dewi Sekartaji yang dapat menyatu secara fisik juga akan terpisahkan. Demikian juga kita nanti.
Asmara penuh persoalan, konflik, dan keharmonisan. Pencapaian penyatuan itu pada akhirnya pasti akan mengalami keterpisahan, kesendirian, dan kekosongan. Kekosongan adalah sebuah proses hilangnya individu yang dibangun sejak awal penuh dengan problematiknya, akan tetapi penyatuan itu tetap ada. Serta menyertainya dalam kesendirian, sungguhpun tidak lagi dilakukan saling memberikan respons atau berinteraksi.
Proses terbentuknya karya ini bagaikan membentuk konstruksi karya keramik yang dimulai dari proses pembentukan bagian bawah (dasar bentuk karya). Dimulai dengan memilin dan menekan tanah liat dari jenis yang berbeda yang sudah diolah menjadi satu, kemudian dibentuk dengan penuh ketekunan dan kepekaan estetik. Selanjutnya ketika proses pembentukan sampai pada bentuk bagian tengah, dibentuk dengan teknik pijitan serta dihaluskan permukaannya. Unsur struktur visual pada bagian tengah tersebut berupa struktur bentuk dasar lingkaran yang terkesan mengembang dan menggeliat. Bentuk di bagian tengah diwujudkan melalui tekstur lebih halus dan ornamentik.
Ornamen bermotif garis pita saling mengikat, melilit, dan juga ada yang terlepas. Ornamen tersebut tersusun bebas terkesan menyatu secara erat, kemudian terpisahkan satu dengan yang lain. Ini sebagai bentuk ungkapan kedinamisan asmara. Bahwa penyatuan yang kokoh pada akhirnya akan mengalami keterpisahan oleh takdir mereka masing-masing menuju kepada kekosongan/kesepian. Mereka yang ditinggalkan akan mengalami kesedirian, berhenti di titik penyatuan kepada yang Maha Kuasa. Jiwa yang semula kokoh, penuh energi, dan dinamis, tiba-tiba menjadi kehilangan kekuatan dan memasuki alam kehampaan, yaitu tanpa makna (kosong). Bentuk kekosongan tersebut berada di bagian bentuk paling atas, berbentuk dasar silinder polos warna glasir putih. Hal ini mencitrakan akhir dari penyatuan tersebut adalah keterpisahan, kekosongan, dan kepasrahan. Artinya kebahagiaan yang dialami secara fisik atau secara imajinasi pada akhirnya juga akan berakhir.
Simpulan
Penghayatan, keakraban terhadap sumber ide dan pengalaman teknis memiliki posisi penting dalam penciptaan karya seni. Penghayatan sumber ide akan mendorong dan membangkitkan imajinasi-imajinasi estetik dalam proses kreatif. Berkarya kriya tidak terlepas dari pengalaman dan kemampuan teknis pribadinya yang dianggap menarik untuk diungkapkan. Pengalaman membawa kesadaran manusia pada aspek-aspek dunia sebagai subjek yang secara timbal balik berkaitan dengan pengalaman manusia tentang realitas yang dihadapi, dan diimplementasi melalui tindakan, dalam hal ini dalam bentuk yang diolah menjadi karya seni.
Penguasaan teknik berkarya akan mendorong imajinasi dalam membangun konsep bentuk-bentuk dan teknik mengeksekusi ide. Yakni ide bentuk karya yang akan diwujudkan ke dalam bentuk karya keramik dengan tema tersebut. Perwujudan karya dengan mempertimbangkan unsur-unsur visual yang terdiri dari bentuk, bidang, garis, dan unsur-unsur visual lainnya. Pertimbangan komposisi visual untuk mencapai kesan tema yang ingin diungkapkan, diperlukan proses eksplorasi teknik dan bentuk untuk penjelajahan estetik.
Ungkapan ide bentuk karya dapat bersifat representatif maupun reinterpretatif. Jadi penciptaan kriya seni oleh kriyawan ada yang mengimitasi objeknya, tetapi ada pula yang didasari oleh sikap kritis sehingga menghasilkan interpretasi baru. Produk kriya seni yang dihasilkan dapat juga dipandang sebagai refleksi dari realitas yang terdapat di masyarakat. Sebagai bagian dari komunitas masyarakat, kriyawan pada umumnya, dalam mengungkapkan sumber ide tidak bisa terlepas dari berbagai pengaruh di sekitarnya.
Daftar Pustaka
Altusser, Louis. (1984). Tentang Ideologi. Yogyakarta: Jalasutra.
Arnheim, Rudolf. (1997). Art and Perception: A Psychology of the Creative Eye the New Pertion, University of California Press, Berkeley, Los Angeles, London.
Burleson, Mark. (2003). The Ceramic Glasze Handbook: Material, Techniques, Formulas, Lark Books, A divition of Sterling Publising Co., Inc., New York.
Barthes, Roland, (1983). Mythologies, Alih bahasa Nurhadi & A. Sihabul Millah, 2004, Mitologi, Kreasi Wacana, Bantul.
Burke, Feldman Edmund. (1967). Art As Image And Idea, Prentice Hall Inc Englewood Cliffs, New Jersey.
Campbell, David. (1986). Mengembangkan Kreativitas, Saduran A. M. Mangunhardjono, Kanisius, Yogyakarta.
Finlay, Linda. (2009). “Debating Phenomenological Research Methods” dalam Journal Phenomenology & Practice, Volume 3, No. 1, Open University.
Matsumoto, Devid. (2000). Psikologi Lintas Budaya. Yogayakarta: Pustaka Pelajar.
Marianto, M. Dwi. (2015). Art & Levitation: Seni dalam Cakrawala Quantum, Pohon Cahahaya, Yogyakarta
_____________. (2011). Menempa Quanta Mengurai Seni, BP ISI Yogyakarta.
Riyanto, Armada CM et al. (Ed). (2011). Aku & Liyan: Kata Filsafat dan Sayap, Widya Sasana Publication, Malang.
Sachari, Agus. (2002). Estetika: Makna, Simbolik dan Daya, Penerbit ITB, Bandung.
Sugiharto, Bambang I. (1996), Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Kanisius, Yogyakarta.
Tabrani, Primadi. (2000). Proses Kreasi, Apresiasi, Belajar, Penerbit ITB, Bandung.
