Sejarah ASKRINA
Asosiasi Kriyawan Republik Indonesia, atau ASKRINA, berakar dari semangat kebersamaan para seniman kriya yang telah tumbuh sejak awal tahun 1980-an. Saat itu, para perajin dan seniman kriya di Yogyakarta membentuk sebuah paguyuban bernama PAKRIYO (Paguyuban Kriyawan Yogyakarta).
Paguyuban ini menjadi ruang bertemunya para kriyawan untuk berkarya, berbagi ilmu, serta membuka ruang-ruang ekspresi dan apresiasi terhadap seni kriya sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan bangsa. Selama bertahun-tahun, PAKRIYO aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti pameran dan workshop seni kriya.

Namun seiring berjalannya waktu, menjelang Tahun 2016, muncul kesadaran kolektif di kalangan anggotanya bahwa ruang berkarya yang terbatas pada wilayah Yogyakarta perlu diperluas. Para kriyawan mulai merasakan kegelisahan bersama, yakni perlunya sebuah ruang yang mampu mewadahi dan mengembangkan seni kriya dalam skala nasional.

Kegelisahan tersebut menjadi titik tolak munculnya gagasan untuk membentuk asosiasi yang lebih besar. Diskusi mengenai hal ini mulai mengemuka saat Pameran Besar Seni Kriya UNDAGI pertama yang digelar pada tahun 2016 di Yogyakarta. Dalam momen itu, para kriyawan menyadari bahwa tantangan pelestarian dan pengembangan seni kriya Indonesia tidak dapat dihadapi secara individu atau regional semata. Seni kriya, sebagai hasil karya adiluhung bangsa, memerlukan kolaborasi, strategi, dan energi kolektif dalam pengelolaannya.
Diskusi berlanjut dan mulai mengerucut pada saat Pameran Besar Seni Kriya UNDAGI kedua, yang dilaksanakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada tanggal 10 Mei 2018. Dalam rapat yang berlangsung saat itu, para kriyawan sepakat dan berkomitmen untuk mendirikan sebuah asosiasi nasional. Maka lahirlah ASKRINA – Asosiasi Kriyawan Republik Indonesia, sebagai wadah bersama yang memperjuangkan kemajuan seni kriya Indonesia secara lebih luas, terstruktur, dan berkelanjutan.

ASKRINA lahir bukan sekadar sebagai organisasi, melainkan sebagai manifestasi kesadaran kolektif para kriyawan untuk membangun peradaban melalui kriya, menjaga warisan budaya, serta membuka ruang baru bagi inovasi dan kolaborasi dalam bidang seni kriya di tingkat nasional dan internasional. ***
