
Oleh: Dr. Ir. Yuke Ardhiati, MT.
Let us then consider what was first discovered from necessity; clothing, for example, where, by the organic assistance of looms, the warp is bound to the welt, not only so that the body might be covered in order to protect it, but also so that ornament might enhance its honour. (Vitruvius: De Achitecture)
Archie-Craft: Kriya dalam Arsitektur
Istilah undagi justru lebih dekat dengan arsitektur dibandingkan kriya. Undagi, terutama di Bali sebagai sosok kepercayaan penguasa untuk menggubah karya-karya arsitektur monumental yang membanggakan. Karena peran mulia itu, undagi memperkaya khasanah dirinya dengan memahami seni budaya, religi senarai mengasah ketrampilan tangannya untuk menggubah karya yang indah. Bila kata undagi, dilekatkan pada kriya, maka hanya karya masterpiece–lah yang relevan. Kriya dalam Arsitektur jarang diangkat dalam forum ilmiah, padahal sepilihan arsitektur nusantara; Karo, Gadang, Joglo, Tongkonan dan Wantilan kini telah menginspirasi gubahan arsitektur modern. Perwujudan arsitektur nusantara itu didominasi oleh karya kriya dalam bentuk pola-pola khas, untuk mempercantik struktur bangunan hingga façade-paras arsitektur. Kelekatan pada kriya, arsitektur dan fesyen, telah mendorong terlahirnya teori arsitektur fesyen sebagai teori persentuhan kriya arsitektur berbasis elemen fesyen seperti asesories, milineries, kosmetik, dan komodifikasi prinsip-prinsip dasar fesyen seperti lipatan, lekukan, anyaman, draperi, lukisan, polesan, dan lain–lain ke dalam arsitektur yang saya namai ‘arsitektur-fesyen’–fashion-architecture. (Ardhiati, 2014). Kiranya, antara seni kriya dan arsitektur mampu menjadi gubahan baru: Archie-Craft: Kriya dalam Arsitektur sebagai titik temu
kreativitas kriya yang berciri nusantara yang perlu memperoleh pendalaman
kajian.
Pertautan kriya dalam arsitektur nusantara mengidentifikasi telah berbaurnya berbagai konsep di luar arsitektur dalam mewujudkan tiga konvensi dasar arsitektur; firmitas, utilitas, and venustas; kokoh, guna, rupa. Besarnya dimensi arsitektural berdampak pada keluasan bidang garapan, akhirnya hal itu ‘mengundang’ seni kriya (lainnya) untuk ber-daya guna padanya sebagai detil dan ornamen. Dengan kata lain wastuwidyawan atau undagi telah menyematkan konten budaya ke dalam rancangan arsitektur, terutama bangunan adat, penyematan elemen-elemen yang menyertai busana adat, simbol khas, ornamen, ukiran, pemakaian prada/emas. Hasilnya kemudian, aura estetik terpancar usai elemen fesyen disandangkan dan mewujud bagaikan bangunan yang bersolek, atau barokisasi, penambahan ornamen secara berlebihan yang memicu lahirnya gerakan Arsitektur Modern. Langka, namun ada sepilihan karya arsitektur kontemporer yang memuliakan karya kriya. Pada karya Romo Mangunwijaya, ornamen kriya teknik keramik mozaik, kaca patri, menjadi elemen estetik arsitektur gereja. Di kota Padang, arsitektur masjid rayanya juga ditengarai dengan ornamen berbasis kriya yang digandakan melalui bahan GRC, di Piyungan Yogyakarta, arsitektur pasar ‘beratap caping’ yang dilukisi motif bunga dan batik menjadi ikon destinasi sepeda onthel di Yogyakarta.
Demikian juga karya canopy bamboo Joko Avianto untuk Frankfurt Book Fair 2015, rumah-rumah bambu ala Eko Prawoto termasuk rumah tinggal Arsitek Gunawan Tjahjono. Bahasa rupa kriya sebagi geliat ketrampilan tangan untuk berarsitektur disebut sebagai ketukangan – craftsmanship. Karya kriya hampir selalu berwujud tiga dimensional karena peran ‘guna’ yang menyertainya. Bisa berperan sebagai penopang karya arsitektur, interior, fesyen, perangkat kuliner, juga sejumlah ornamen. Pameran Undagi mengkategorikan kriya heritage, popular, dan alternatif, dan saya menambahkan batasan kriya melalui proses penciptaannya yang dibuat secara manual dengan sentuhan artistik yang terbedakan menjadi tiga kategori; a. Kriya warisan masa lalu/peninggalan yang sifatnya adiluhung/heritage, b. Kriya berbasis tradisi untuk keseharian/popular dan c. Kriya kontemporer/ kriya alternative.
Ukel sebagai Monad Keindonesiaan
Bila kriya digadang-gadang sebagai sumber kesejahteraan, maka perlu
ditumbuh-kembangkan kriya berbasis kebangsaan, dengan menemu-kenali monad keindonesiaan. Monad, diperkenalkan oleh Leizbiz saat menyingkap draperi sebagai monad dari seni Renaissance. (Leibniz, Monadology,1714). Sifat-sifat keabadian draperi yang dinilai mengandung monad seni Renaissance itu telah menjadi peradaban yang membanggakan benua Eropa. Terinspirasi oleh Leibniz, sayapun ingin menggali monad keindonesiaan. Kelak, inti jiwa seni nusantara berupa monad keindonesiaan akan mampu memberi kesegaran dalam menafsir keindonesiaan termasuk mewujudkan kriya berbasis kebangsaan itu.
Monad keindonesiaan itu perlu kiranya ditemukan. Diawali dengan pemetaan karya-karya kriya Indonesia untuk kemudian dipolakan serta divisualkan pola-pola yang berulang sebagai monad. Di era Soekarno, telah digali semacam monad keindonesiaan yang diunduh dari budaya Jawa Kuno. Oleh Bung Karno bentuk-bentuk itu diimplementasikan sebagai dasar penciptaan Arsitektur Modern Projek Mercusuar-nya di Jakarta. Puncak projek arsitektur mercusuar Bung Karno ada pada Tugu Nasional. Di sana, kosmologi nawasanga sebagai orientasi bangunan, pola percandian sebagai pola dasar ruang, bentuk tugu berupa tiyang = orang laki-laki sebagai dasar bentuk- ’form’ arsitektur, juga sejumlah ornamen kala makara, ulir, ukir yang disematkan pada Arsitektur Modern sang Tugu. Dalam hal ini, Bung Karno telah ‘memberi warna’ pada Arsitektur Modern yang sejatinya peniadaan ornamen. Bung Karno justru menampilkannya. Peran Bung Karno sebagai Pemimpin, telah menguntungkan posisi arsitektur Indonesia masa itu karena ia menciptakan trend setter dan bukan follower.
Selama mencermati seni visual dalam kriya nusantara saya temukan sesuatu yang berpotensi sebagai monad keindonesiaan. Beberapa artifak heritage sering menampilkan bentuk-bentuk ukel – semacam garis yang dilengkungkan bagaikan lingkaran. Ukel dalam fesyen berupa gelung rambut yang kemudian diberi tusuk/ pasak penguat dinamai ukel konde. Bentuk lengkung khas ukel terkadang sebagai riasan wajah, bahkan ada diujung rambut punokawan; Semar, Gareng Petruk, Bagong. Bentuk ukel juga ditemukan dalam arsitektur berupa akhiran benda, akhiran ornamen umpak, dan juga dalam Sastra Huruf Jawa.
Indikator Keberhasilan Kriya
Uraian tentang kriya arsitektur, monad keindonesiaan, teori arsitektur fesyen membuktikan kekayaan ekosistim kriya yang masih memerlukan eksplorasi, dan peran Negara. Namun, entah mengapa kebijakan tentang kriya secara mendalam kurang memperoleh tempat di negeri ini, kecuali keinginan mengeksploitasi karya-karya adiluhung yang seharusnya terlindungi menjadi ter-degradasi.
Kontribusi kriya terbukti telah memperkuat perekonomian nasional. Indikatornya adalah contributor Produk Domestik Bruto -PDB Negara. Kurangnya kepedulian itu ‘nyata ada’, manakala ingin mengetahui perolehan PDB dari bidang kriya. Kira-kira 15 tahun lalu sewaktu riset studi s2 hingga artikel ini dituliskan, persoalan data atas apa yang dinamakan sebagai produk kriya tidak juga clear. Perseteruan terjadi hanya di seputar definisi dan bukan mengurai permasalahan. Bila merujuk data resmi BPS, seni berbasis kriya/kerajinan itu merupakan ‘ruang abu-abu’ dalam PDB Nasional. BPS masih konsisten menampilkan tabel PDB berdasar lapangan usaha. Di sisi lainnya kontribusi produk kriya terpecah menjadi 2, yaitu Kelompok Industri Pengolahan dan Kelompok Perdagangan, Hotel dan Restoran. Secara angka BPS belum mengklarifikasi secara eksak. Harapan bertumpu pada Sensus Ekonomi 2016 ini, terutama pendataan Kriyawan serta kantongkantong komunitas kriya penyangga tradisi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali dan NTT serta beberapa daerah bekas kerajaan nusantara.
BPS menggolongkan 2 sistim komoditi; SITC-Standard International Trade Classification dan HS-Hamory System, namun belum mengakomodir perkembangan produk kriya, dikarenakan; a. belum adanya kesamaan definisi kriya, ‘handycraft’’, karya seni, barang antik, produk kayu atau anyaman, b. dugaan adanya pembatasan volume tertentu dalam sistim pelaporan kepada BPS.
Seni Kriya, Seni Yang Mengabdi
Dikatakan kriya sebagai karya seni yang mengabdi karena perannya dalam peradaban. Keunggulan kriya ada pada nilai guna/nilai pengabdian produk. Bila produk kriya dinilai melampaui aspek gunanya, ia dikategorikan sebagai karya seni-art craft sehingga lahir klasifikasi seni kriya adiluhung dan seni kriya massal. Untuk disebut kriya adiluhung perlu ditinjau proses penciptaannya yang sarat akan ’mistery’ atau sesuatu mistery yang membutuhkan ketrampilan tangan secara ngrawit, yaitu kehalusan akal budi di saat menciptakan karya, sehingga memerlukan waktu yang relaif lama untuk mencipta, dan akibatnya jumlah karya kriya yang sangat terbatas atau bahkan satu-satunya, yang hanya dimiliki oleh pemesannya atau orangorang tertentu sebagai hadiah, persembahan atau prasasti. Disini perbedaan signifikan antara seni kriya dengan kerajinan rakyat.
Kriyawan, Aktor Kreatif Seni Kriya
Sumber daya manusia kreatif kriya, tak terlepas dari proses kreatif serta
penciptaan produk. Aktor kreatif bidang kriya merupakan manusia langka, selain berperan menjadi kreator/desainer sekaligus ia tenaga trampilnya. Saat ini terjadi kelangkaan Kriyawan cakap, trampil, ‘rajin’ yang mencipta produk secara ngrawit yang merupakan tragedy nasional. Di saat Negara membutuhkan keberadaan Kriyawan hebat, mereka tidak tersedia. Salah satu pemicu kelangkaan Kriyawan, adalah dampak asimetri ekosistim kriya yang tidak membawa kesejahteraan bagi para Kriyawan serta Komunitas Perajin-nya. Sebagian Kriyawan, bahkan ‘tersesat oleh iming-iming’ yang lebih menjanjikan materi dibandingkan berkarya di kesunyian demi menghasilkan karya adiluhung, yang notabene tak lagi dibutuhkan di dunia modern ini. Ketersesatan itu tak mampu untuk mengembalikannya ke studio penciptaan itu. Itulah sebabnya sebagai tragedy nasional.
Sebab musabab tergusurnya peran Kriyawan menjadi Marketer, seringkali diakibatkan oleh situasi di bidang penjualan jasa produk (kriya) jauh lebih mensejahterakan dibanding menjadi Kriyawan murni. Kehidupan Kriyawan sangat beresiko tinggi terutama terhadap kualitas desain, waktu serta biaya yang harus dipikulnya sebelum karyanya benar-benar diserap pasar. Hal ini
juga diakibatkan ketiadaan venue bagi pemasaran produknya, akhirnya
menerima sistim kerjasama penjualan produk kriya dengan sistim konsinyasi. Akibatnya, harga produk kriya melambung, dan semakin tidak diserap pasar. Hal ini amat mematikan langkah Kriyawan untuk dapat menabung, atau melakukan riset/percobaan desain-desain unggulannya. Ketiadaan biaya riset dan eksplorasi itu dikarenakan modal kerja yang tertanam sebagai produksi kriya sistim konsinyasi penjualan tidak terjual.
Posisi tawar Kriyawan Indonesia yang lemah, telah menjadikan produk kriya Indonesia diterima di pasar dunia sebatas sebagai ‘tukang jahitʼ/ tukang semata . Desain kriya unggulan, sering kali datang dari mancanegera yang dikirim via email. Kriyawan kita, kemudian diminta mencari mitra dengan membentuk ‘komunitas perajin’, mereka menjadi semacam mesin pengganda desain pesanan itu. Lemahnya nilai tawar kriyawan yang hanya sebagai penjahit, tentu jauh kurang/tidak sejahtera, dan situasi benar-benar menyadarkan mereka untuk alih profesi. Hal ini merupakan cerminan ekosistim seni kriya yang tidak berlangsung secara baik karena tak mampu kesejahteraan para aktor kriawannya. Nasib mereka tidak sebaik rejeki si Desainer Kriya dari manca, Marketer/Broker yang meraup dolar melalui kriya yang dianggitnya.
Situasi ini berlangsung cukup lama, bahkan sejak batik menjadi industri di Indonesia. Pertanyaannya kemudian? Mengapa bukan Kriyawan kita yang menjadi penentu desain bagi kebutuhan manca itu? Jawabannya kurang lebih akibat beragamnya mentalitas khas Kriyawan antara lain:
1. Kriyawan Empu
Lazimnya ia mencipta karya masterpiece sebagai satu-satunya karya, dan dirinya hanya berhasrat ‘menggubah karya’ sesuai dorongan kalbunya, atau karena keinginan ‘mempersembahkan’ sesuatu bagi seseorang tertentu. Sejatinya, Kriyawan Empu-lah yang mengharumkan nama bangsa, namun situasi ini kontra produktif dengan harapan Negara yang ingin mengandalkan PDB dari produk kriya. Kriyawan berkarakter seorang Empu, pencipta karya adiluhung, disegani dan kurang berkenan bila karyanya digandakan, apalagi oleh komunitas perajin.
2. Kriyawan Akademisi
Beberapa Kriyawan sering kali juga seorang pengajar, atau periset.
Betapapun besar keinginannya untuk berkarya, dirinya sering kali
terbelenggu oleh sejumlah teori yang harus diakomodir sebagai dasar
ciptaan. Beban akademik itulah yang akhirnya justru mengurangi aura yang mestinya dipancarkan dari karyanya. Karyanya seringkali menjadi naïf karena justifikasi teori dalam praktek yang seringkali kurang klik atau kurang pas. Kriya yang memasuki ranah karya seni, perlu pancaran aura atau patina sering kali dijumpai sebagi akibat ide-ide ‘nakal’ sang Kriyawan. Dan hal ini, sulit ditemukan pada Kriyawan Akademisi.
3. Kriyawan Pengembang
Kriyawan ini menguasai hulu-hilir bidang kriya yang digelutinya, selain
bakatnya juga keberuntungannya dalam memprediksi selera market,
sekaligus kemampuan lobi serta pergaulan luasnya telah menjadikan dirinya memperoleh kepercayaan beberapa anchor tenant pada gerai-gerai tertentu baik lokal maupun mancanegara. Di saat kriya menjadi komoditas yang menjanjikan, justru peran Kriyawan Pengembang ini dibutuhkan. Mereka bersedia dan mampu melakukan riset dan melakukan terobosan desain, material sesuai animo pasar. Namun, karena penguasaan hulu-hilir dibidang kriya ini, dirinya tak lagi mengandalkan komunitas perajin. Mereka memilih penggandaan dengan bantuan alat, sehingga menyerupai sebuah industri. Pada akhirnya, karena ingin menjaga kualitas produk seperti standar mereka,
Kriawan Pengembang mirip konglomerasi dalam dunia bisnis. Mereka tidak lagi bisa menerima ‘kelalaian’, ketidakkonsistenan para perajin yang sangat manusia itu. Berkarya Kriya mengharuskan kita untuk bertoleransi sebesarbesarnya pada Komunitas Perajin yang sejatinya amat halus dan perasa. Mentalitas Kriyawan Pengembang, karena tekanan berproduksi dari customer-nya, akhirnya bisa berdampak pada turn over yang tinggi karena komunitas perajin tak sanggup dieksploitasi.
4. Kriyawan Broker / Pedagang
Jenis Kriyawan Broker seperti inilah yang justru telah mendomininasi
ekosistim kriya. Sekalipun berawal sebagai Kriyawan, namun karena rejeki telah menjemputnya menjadi Broker atau Pedagang, dirinya dengan sadar merespon ‘iming-iming’ kesejahteraan ekonominya dibanding memelihara ketekunan berkarya kriya. Manakala, seorang Kriyawan berproses sebagai pedagang, tentu kita sudah bisa menebak bagaimana hasil karyanya bukan?
5. Kriyawan Kritikus dan Kurator Kriya
Indonesia, juga langka akan Kriyawan Krititus, dan juga Kurator dalam bidang Kriya. Keberadaan mereka amat dibutuhkan untuk menjadi penyeimbang produk-produk mana yang masuk kategori adiluhung atau yang massal. Melubernya karya-karya kriya plagiat perlu diputus mata rantainya oleh ketajaman pena sang kritikus. Demikian juga, hamparan karya kriya yang bersifat simulacra sudah selayaknya tidak lagi tersaji dalam suatu pameran.
Arranger Industri Kriya
Ketidak-terhubungan antara Kriyawan dengan Sang Market merupakan
permasalahan utama bagi ekosistim seni kria. Sang Market lazimnya
Pedagang Besar di suatu Negara sebagai pemasok Department Store yang menginginkan sejumlah produk kriya tertentu sebagai pemasok event tertentu seperti; natal, thanks giving day, imlek dsb. Mereka juga tidak ingin memesan sesuatu yang serupa dengan pemasok lainnya. Situasi seperti ini terjadi karena persaingan di Negara-Negara yang memiliki tingkat kesejahteraan tertentu, yang mampu membeli karya kriya dengan harga tinggi sebagai bagian dari prestisenya.
Dalam praktek, seringkali terjadi gap atau ketak-terhubungan antara
Kriyawan yang sifatnya halus, perasa, dan cenderung percaya diri atau
memaksakan ide-idenya, sementara Sang Marketer yang aktif, serta tidak
banyak waktu untuk menerjemahkan keinginan pasar, sering kali
memvisualkan apa yang menjadi harapannya dengan mendikte dan memberi sample karya dengan kriteria serta standar mutu tertentu. Perbedaan karakteristik, ditambah perbedaan kultur menjadikan cultural gap keduanya menjadi sumber masalah.
Hadirnya Arranger akan mengurai kebuntuan-kebuntuan antara Kriyawan dan Marketernya menuju keberhasilan industri seni kria, yaitu terwujudnya
ekosistim kriya yang mensejahterakan. Arranger berkemampuan menuju ke arah itu. Talentanya mampu memotivasi serta mensinergikan ke-7 (tujuh) elemen industri kriya, Kriyawan melalui; pembentukan institusi ‘arranger’ kriya Indonesia yang bertugas a. Menemukan calon kreator kriya yang relevan dengan program pemerintah, b. Mempersiapkan semacam platform/template/pola tertentu untuk memfasilitasi ekosistim industri kriya yang mencakup 7 (tujuh) elemen utamanya yaitu; (1) proses penciptaan karya seni kriya (2) produksi (3) ‘delivery’ (4) distribusi (5) media pementasan (6) pemasaran (7) konsumen/ audience.
Memuliakan Kriyawan sebagai Profesi
Kelangkaan Kriyawan sebagai tragedy nasional harus segera diakhiri. Bila Negara memang peduli akan peran kriya sebagai motor penggerak perekonomian, maka Negara perlu hadir dan segera mungkin menemukan terobosan demi memecahkan kelangkaan Kriyawan itu. Salah satu solusinya adalah memuliakan Profesi Kriyawan layaknya Arsitek, Desainer, bahkan seorang Dokter. Negara perlu mendorong terciptanya Profesi Kriyawan memperoleh Regristrasi bahkan sertifikasi keahlian secara nasional.
Negara perlu memetakan apa saja bidang Kriya, siapa saja yang telah
berpraktek sebagai Kriyawan dan siapa saja yang sedang menempuh studi secara akademik, maupun nyantrik/magang pada Kriyawan tertentu, juga perlu dipetakan seberapa luas komunitas perajin yang berperan penting sebagai pengganda kerja Kriyawan itu. Setelah itu, Negara baru dapat memetakan bidang-bidang kriya potensial dan mengatur regulasi, termasuk menciptakan lembaga pendidikan formal, pendidikan tambahan kepada Kriyawan tentang orientasi pasar. Akan tetapi, proses pelembagaan Kriyawan ini harus pula mencakup penggemblengan mentalitas perajin di komunitas-komunitas perajin, yang dilanjutkan berbagai pelatihan penguasaan teknik dan keterampilan (craftsmanship) yang tinggi agar mampu menghasilkan produk kriya yang berkualitas world class atau standar internasional.
Pengindustrian Karya Seni Kria
Industri Indonesia yang berbasis kriya, perlu meninjau keberlangsungan
ekosistim seni kria yang mampu mensejahterakan ke-tujuh elemennya.
Rumusan gagasan itu terkait sistim struktur sistem dinamai pengindustrian Karya Seni Kria, serta upaya-upaya kunci yang perlu ditempuh dalam menegakkannya. Karya seni kriya merupakan bagian dari karya seni, sehingga proses penciptaannya mempunyai kesamaan dengan proses penciptaan teknologi, yaitu melalui proses kreatif. Upaya pengindustrian karya seni kriya ini merujuk model proses pengindustrian inteligensi oleh Sasmojo, 1999.
Pengindustrian seni kriya sebagai sesuatu yang setara dengan pengindustrian inteligensi yaitu sebagai tempat penyelenggaraan dan pengelolaan proses-proses pegembangan karya pikir guna menghasilkan
preskripsi teknologi, dan memfungsikannya di dalam proses-proses produksi. Rumusan tentang pengindustrian karya seni kriya, menuntut tersambungnya ketujuh komponen- komponen Pengindustrian Seni Kriya antara lain;
1. Komponen Pendidikan
Ia berperan sebagai sarana institusional pengembang kemampuan dan
pembentukan para calon kreator di seni kriya. Selain melalui pendidikan
formal, juga dapat dikembangkan kreator mandiri dengan belajar pada
seorang maestro/empu dengan cara magang atau nyantrik. Peran ‘Arranger’ industri seni kriya sangat diperlukan guna menemukan kreator atau calon kreator melalui upaya-upaya: a. Sebagai mediator mempertemukan kreator ulung dengan seorang cantrik, b. Memotitivasi kreator mandiri/romantis untuk menemukan jati diri agar kelak mampu menjadi kreator ulung. c. Memfasilitasi kreator rasionalis/lulusan akademik untuk meningkatkan kemampuan melalui kegiatan penyegaran desain, d. Menciptakan forum komunikasi kreator seni kriya agar tercipta pengkayaan pengembangan desain.
Peran Arranger diperlukan untuk mendorong terjadinya kolaborasi seni,
melalui cara; a. Pengkayaan ide terkait unsur-unsur desain, motif hias,
pembauran gaya ataupun perluasan fungsi produk, b. Memberikan advis
terhadap pola manajemen ataupun organisasi intern kreator, c. Memberikan advis kepada kreator terkait teknologi bahan, material, wama untuk memaksimalkan terwujudnya daya cipta, dan d. Membuka kemungkinan terjadinya pengembangan desain sebagai bagian dari pendidikan. Terkait proses penciptaan karya seni kriya, calon kreator perlu dimotivasi oleh rangsangan tertentu, berupa; a. Dorongan kreativitas, b. Permintaan masyarakat sehari-hari, c. Terlestarikannya kebutuhan ritual/religi, dan d. Berkembangnya permintaan pasar/pesanan. Dalam proses artistik-kreatif itu terjadi proses unik, karena merefleksikan jiwa sang kreatornya, yang terefleksi pada produk yang dihasilkan. Menurut Yusuf Effendi, 1999, sedikitnya 13 jenis pengetahuan yang mempengaruhi daya cipta kreator antara lain; 1. Pemahaman genius loci atau spirit of place, 2 pengetahuan ketrampilan tradisional, 3. Pengetahuan bahan alam lokal atau indegenous material, 4. Pemahaman misteri budaya tak tersentuh, 5. Pemahaman teknologi baru dan produk baru, 6. Kemampuan manajemen/wawasan pasar, 7. Pengetahuan sejarah/artefak/teknologi, 8. Pengetahuan teropong dunia/peristiwa dunia, 9. Pemahaman model as a fashion trend, 10. Pengetahuan pariwisata, 11. Pengolahan bahan baru, 13. Design as art.
3. Komponen Perancangan Sistem
Seringkali proses ini tidak dilalui kecuali untuk daya cipta rancangan untuk digandakan sebagai produk berukuran khusus atau jumlah massal, sehingga diperlukan pembuatan pola, lazimnya didasarkan ukuran standar internasional. Untuk produk busana, dikenal ukuran S, M, L, Extra L dan lainnya. Bagi produk sepatu dengan nomor 35, 36, 37 dan seterusnya. Pada mebel, dikenal ukuran meja kerja satu biro dan setengah biro. kriya tekstil mengenal ukuran lebar 90 cm, 115 cm, atau 150 cm. Demikian juga teknik pewarnaan, dikenal finishing ‘glossy’, textured’, “mattpainted’, dan sebagainya. Pembuatan pola ditujukan untuk memudahkan pembuatan dan pengulangan desain. Ada ’software’ tertentu pembuatan pola dengan teknik computer disebut ‘Polygon Marker Organizer’ .
5. Komponen Uji Keandalan Dan Kelayakan
Merupakan proses produk kriya yang memerlukan pertimbangan
keselamatan atas kemungkinan terjadinya kegagalan yang dapat merugikan atau mencelakakan konsumennya. Cara uji yang umum dilakukan berupa pengujian ‘visual’ berupa apresiasi produk dengan mengandalkan cita-rasa artistik. Proses ini terutama untuk memberikan penilaian terhadap produk kriya barang hadiah, barang dekorasi dan barang koleksi dengan cara memandangi secara seksama, menyentuh permukaan produk, memantasmantas pada lokasi yang ingin ditempatkan, sampai dapat disimpulkan suatu persepsi artistik terhadap benda tersebut. Untuk kriya busana, apresiasi produk dilakukan melalui ‘fitting’ atau pengepasan dikenakan oleh model/peragawati atau cukup dengan ‘manequin’/ boneka peraga. Uji keandalan dan kelayakan pada produk mebel dilakukan melalui uji coba langsung untuk menguji kekuatan sekaligus kenyamanannya.
6. Komponen PengKemasan dan Komersialisasi
Merupakan aktivitas pendukung, yang merupakan sebagai aktivitas puncak dalam proses pengindustrian karya seni kriya melalui launching atau peluncuran/ pementasan produk usai melewati tahap-tahap sebelumnya. Produk kriya dipresentasikan secara reprentatif pada suatu media pementasan. Lazimnya disajikan secara atraktif, komunikatif, serta dilengkapi dengan informasi memadai berkenaan dengan keunggulan produk. Segala upaya agar produk kriya mendapatkan apresiasi dilakukan demi mendorong terjadinya transaksi penjualan atau pemesanan. Langkah selanjutnya adalah mengenalkan dan menyebarluaskan produk, atau memasarkannya. Proses lanjutan ini erat kaitan dengan ‘packaging’ dan penyediaan ‘marketing tools’ sebagai sarana menginformasikan produk. Teknik memasarkan produk karya seni kriya, memiliki sedikit perbedaan dengan produk manufaktur terutama bila dipasarkan dalam jumlah tertentu, karena harus memperhitungkan kemampuan produksinya, yang mengandalkan kepada ketrampilan tangan Kriyawan/Perajin.
7. Komponen Produksi
Komponen produksi merupakan proses penggandaan produk ’mock up’
menjadi karya akhir yang diproduksi, baik sebagai karya tunggal atau karya massal. Produksi karya tunggal, dilakukan oleh Kreator/Kriawan sendiri, atau melalui bantuan satu atau dua orang Perajin. Untuk memproduksi karya massal, diperlukan keterlibatan kelompok perajin disebut Komunitas Perajin.

Lampiran 1: Jaringan Sistem-Sistem Terkait Dan Berpengaruh terhadap Proses-Proses Pengindustrian Karya Seni Kriya (Sumber: Tesis Magister Yuke Ardhiati, ITB, 2001)
Daftar Pustaka
Ardhiati, Yuke. “Kria Berbasis Tradisi dalam Perekonomian Nasional” dalam Acara Konsinyasi Kementrian Agraria dan Tata Ruang dalam Peningkatan Kualitas Tata Ruang. 2016
Ardhiati, Yuke. “Urban Fesyen Dalam Anggitan Wastra Nusantara, Temu Pusaka Indonesia, Bogor, 2015
Ardhiati, Yuke. “Arranger dalam Seni Kria Indonesia”. Acara Curah Pendapat Peran Tata Ruang dalam Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Oktober 2015
Ardhiati, Yuke. “Arsitektur Fesyen’ Bagi Wajah Indonesia”. Seminar Arsitektur Merah Putih. LSAI dengan UKDW, Yogyakarta, April, 2014.
Ardhiati, Yuke. “Pengindustrian Karya Seni Kria di Indonesia”. Tesis S2 Program Studi Pembangunan di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Kebijakan Publik ITB Bandung, 2001.
BPS Kesulitan Kumpulkan Data Industri Kreatif. Sumber: Http://Www.Koran-
Sindo.Com/News.Php?R=5&N=29&Date=2015-09-26
BPS Industri Mikro Dan Kecil. Sumber Https://Www.Bps.Go.Id/Subjek/View/Id/170#Subjekviewtab1=15-06-2016
Ekonomi Berbasis Kreativitas Dan Inovasi Sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia.
Sumber: Https://Www.Ekon.Go.Id/Berita/Print/Ekonomi-Berbasis-
Kreativitas.1659.Html=15-06-2016
Rangkuman Berbagai Sumber
Komponen Pengembangan
Merupakan aktivitas lanjutan untuk mentransformasikan karya pikir atau
karya cipta menjadi sketsa atau model sempurna yang disebut mockup/
dummy. Bila kreator memiliki keterbatasan memvisualkan ide, ia dapat
dibantu seorang visualizer. Peran Arranger di tahap ini, difokuskan kepada
pemberian dukungan fasilitas kepada para kreator dalam menangani dan
mengatasi masalah penyediaan material/ bahan baku sebagai media
eksperimennya, melalui aktivitas; a. menghubungkan kreator dengan
produsen material tertentu untuk membuat prospek kerjasama, b.
membuka akses institusi keuangan atau donatur untuk memberikan
dukungan dana bagi terwujudnya karya, c. menciptakan publikasi untuk
‘awarenes’ terhadap kehadiran karya cipta sang kreator.
