
Dari kiri; Dr. Aan Sudarmanto, SSn., (Ketua Jurusan Kriya ISI Surakarta), Nurohmad, SSn., dan Yonata Buyung Mahendra, SPd., MSn., Tim Kurator UNDAGI 2026. (Foto: Nurohmad)
Solo 26 Mei 2026 | Tim kurator pameran seni kriya UNDAGI 2026 memulai rangkaian “Kuratorial Trip 1# UNDAGI 2026” dengan menggelar sosialisasi di Kota Solo. Perjalanan dimulai selepas salat Isya sekitar pukul 21.00 WIB pada 25 Mei 2026. Tim kurator melaju membelah malam menuju Solo dan tiba sekitar pukul 23.00 WIB di kediaman Dr., Aries BM, SSn., MSn., seniman sekaligus pengampu Pakriyan untuk ASKRINA di Solo.
Suasana hangat langsung terasa ketika tim tiba. Sejumlah mahasiswa kriya jenjang S1 dan S2 telah berkumpul menunggu kedatangan para kurator. Pertemuan malam itu berlangsung akrab dan cair, ditemani kopi panas serta gorengan hangat yang menambah suasana kekeluargaan.

Suasana hangat ngobrol seputar Undagi 2026 bertema “Unbound”. (Foto: Nurohmad)
Meski berlangsung secara informal, diskusi malam itu berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan yang produktif. Percakapan mengalir dari upaya menghidupkan kembali marwah seni kriya dalam arus besar seni rupa hingga bagaimana kriya dapat semakin diperhitungkan dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia.
Tema besar UNDAGI 2026, yakni “Unbound”, mulai dilemparkan dalam forum itu. Tema tersebut memantik imajinasi dan antusiasme peserta, khususnya para mahasiswa kriya. Mereka menyambut tema tersebut sebagai tantangan untuk menghadirkan karya-karya dengan novelty, critical thinking, dan keluasan konteks kriya sebagai penanda zaman, karena bagaimanapun, kitalah yang harus menandai zaman itu sendiri. Itulah semangat yang mengemuka dalam perbincangan malam itu.
Diskusi berlangsung hingga dini hari dan baru diakhiri sekitar pukul 03.00 WIB. Para peserta pulang dengan kepala penuh ide, gagasan, dan imajinasi tentang kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni kriya.
Keesokan harinya, tim kurator melanjutkan agenda sosialisasi di Jurusan Kriya, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sebelum menuju kampus, rombongan sempat menikmati sarapan soto di depan gerbang Kampus 2 ISI Surakarta.

Antusiasme para mahasiswa peserta sosialisasi UNDAGI 2026 di ISI Surakarta. (Foto: Nurohmad)
Sekitar pukul 09.30 WIB, tim tiba di kantor dosen Jurusan Kriya dan kembali mendapat sambutan hangat dari para dosen maupun mahasiswa. Acara sosialisasi kemudian dibuka oleh Ketua Jurusan Kriya ISI Surakarta, Dr., Aan Sudarmanto, SSn., MSn.
Dalam sambutannya, Aan Sudarmanto mengajak para dosen dan mahasiswa untuk turut berpartisipasi dalam perhelatan UNDAGI 2026. Menurutnya, pertemuan kreatif melalui karya perlu terus dijaga dan dijadikan tradisi bersama para kriyawan.
Sesi berikutnya diisi oleh Nurohmad selaku kurator UNDAGI sekaligus Wakil Ketua Bidang Organisasi ASKRINA. Ia menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari sivitas akademika Jurusan Kriya ISI Surakarta.

Serius membahas “Unbound”, meski diselingi canda tawa. (Foto: Nurohmad)
Dalam paparannya, Nurohmad memperkenalkan Asosiasi Kriyawan Indonesia (ASKRINA) sebagai wadah bersama bagi para kriyawan untuk terus tumbuh, berkembang, dan memperluas posisi seni kriya dalam arus seni rupa yang lebih besar.
Ia juga menjelaskan perjalanan panjang pameran UNDAGI, mulai dari UNDAGI 1 tahun 2016, UNDAGI 2 tahun 2018, hingga UNDAGI 2025 yang dinilai berhasil menunjukkan perkembangan penting seni kriya melalui hadirnya karya-karya heritage, populer, hingga ekspresi personal. Kehadiran para maestro kriya dalam UNDAGI juga disebut menjadi magnet sekaligus pemantik bagi generasi muda untuk terus berkarya.
Untuk UNDAGI 2026, tema “Unbound” dihadirkan sebagai tantangan bagi para kriyawan agar mampu melahirkan karya-karya yang lebih berani dan out of the box.
“Untuk menjadi unbound, untuk merdeka dan melepaskan diri, kita harus terus belajar kepada kriya agar tidak membelenggu kriya itu sendiri. Untuk menjadi unbound, kita membutuhkan pengetahuan,” ujar Nurohmad. Ia menambahkan dengan seloroh, “Kriya adalah kuasa atas pengetahuan.”
Sementara itu, kurator lainnya, Buyung, menjelaskan mekanisme partisipasi dalam UNDAGI 2026. Menurutnya, pameran tahun ini menghadirkan pendekatan berbeda dengan menitikberatkan proses kurasi sejak tahap awal melalui pengiriman konsep, sketsa, desain karya, hingga rancangan display karya.
Setelah lolos seleksi awal, peserta akan terus berkomunikasi dengan tim kurator selama proses penciptaan karya berlangsung. Penjelasan tersebut semakin menghidupkan suasana diskusi dan mendapat respons antusias dari para audiens.
Melalui rangkaian sosialisasi ini, UNDAGI 2026 tidak hanya hadir sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai ruang dialog, pertukaran gagasan, dan pertemuan kreatif lintas generasi dalam dunia seni kriya Indonesia.*** (Uung-Admin)
