
Suasana antusiasme peserta Sosialisasi Pameran UNDAGI 2026 | UNESA-Surabaya | 12 Juni 2026. (Foto: Arif S.)
JOGJA-SURABAYA- 11 Juni 2026 | Setelah sukses melaksanakan Kuratorial UNDAGI 2026 #1 di Solo (26 Mei 2026), perjalanan sosialisasi UNDAGI 2026 terus berlanjut ke Surabaya.
Pada Kamis malam, 11 Juni 2026, tim sosialisasi yang terdiri dari Ketua ASKRINA (Agus Sriyono, SSn.), Ketua Panitia UNDAGI (Dr. Arif Suharson, SSn., MSn.), dan salah satu tim kurator (Nurohmad, SSn.,) memulai perjalanan Kuratorial Trip #2 menuju Surabaya.
Selepas salat Isya, seluruh tim berkumpul di sekretariat ASKRINA di Bantul, Yogyakarta. Sekitar pukul 20.00 WIB, perjalanan dimulai melalui jalur tol menuju Surabaya.
Sepanjang perjalanan, suasana hangat terus terbangun. Obrolan serius tentang kriya, strategi pengembangan jaringan, hingga diskusi ringan yang diselingi gelak tawa membuat perjalanan panjang terasa singkat. Energi kebersamaan itulah yang menjadi bahan bakar utama perjalanan ini.
Sekitar pukul 24.00 WIB, rombongan tiba di Surabaya. Tantangan kecil pun muncul: mencari tempat bermalam. Setelah beberapa kali berpindah hotel, baru pada hotel kelima tim mendapatkan kamar yang tersedia. Karena malam sudah larut, semua langsung beristirahat untuk memulihkan tenaga.
Keesokan paginya, Jum;at, 12 Juni 2026, setelah check-out sekitar pukul 10.00 WIB, tim mencari sarapan khas Surabaya sebelum melanjutkan agenda berikutnya. Usai menunaikan salat Jumat di kawasan kampus Universitas Negeri Surabaya, perjalanan berlanjut menuju Fakultas Bahasa dan Seni UNESA.

Setibanya di lokasi, tim disambut hangat oleh para dosen dan mahasiswa yang telah menunggu. Suasana perkenalan terasa akrab, terlebih ketika terungkap adanya ikatan almamater dengan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Kedekatan itu segera mencairkan suasana dan membangun ruang dialog yang terbuka.
Tepat pukul 13.00 WIB, acara sosialisasi dimulai. Acara dibuka dan dipandu oleh Ketua UNDAGI, Dr. Arif Suharson. Dalam paparannya, ia menjelaskan tentang apa itu UNDAGI, sejarah perjalanan pameran yang telah berlangsung selama ini, serta berbagai program yang terus dikembangkan. UNDAGI bukan sekadar pameran, melainkan ruang tumbuh bagi praktik seni kriya yang terus bergerak mengikuti zaman. Sesi berikutnya diisi oleh Ketua ASKRINA, Agus Sriyono, SSn., yang memperkenalkan ASKRINA beserta ruang lingkup dan program-program organisasinya. Ia menekankan pentingnya perluasan jejaring kriyawan di berbagai daerah. Harapannya, Surabaya dapat memiliki representasi ASKRINA (Pakriyan) sebagai perwakilan daerah yang mampu menjadi simpul gerakan kriya di Jawa Timur.
“Gerakan kriya harus terus hidup dan menyebar ke berbagai kantong-kantong kriya di Indonesia,” ujar Agus Sriyono menegaskan dalam sesi tersebut.
Pembicara ketiga adalah Salah satu Tim Kurator UNDAGI, Nurohmad, yang membahas tema besar UNDAGI 2026: “Unbound.”
Tema ini mengangkat gagasan tentang kebebasan, keterlepasan, dan ketidakterikatan—sebuah ruang kreatif seluas-luasnya bagi kriyawan untuk mengekspresikan gagasan melalui kerja-kerja kreatif. Dalam konteks ini, kriya dipandang bukan hanya sebagai produk keterampilan teknis, tetapi juga sebagai medium ekspresi yang mampu menembus batas disiplin, material, dan pendekatan artistik.
Antusiasme peserta terasa sangat kuat. Diskusi berkembang hidup dengan berbagai pertanyaan kritis seputar UNDAGI, tema Unbound, Bazar Kriya dan masa depan seni kriya.

Para Narasumber dalam Sosialisasi UNDAGI 2026. (Foto: Arif S.)
Salah satu pertanyaan menarik yang muncul adalah tentang kemungkinan hadirnya ruang inklusi, kolaborasi lintas disiplin, hingga performance art dalam UNDAGI 2026. Tentu tim sosialisasi menyambut pertanyaan itu dengan penuh semangat.
Kemungkinan tersebut dinilai sangat terbuka. Bahkan, salah satu visi besar UNDAGI ke depan adalah menjadi ruang yang semakin inklusif—ruang yang tidak menilai karya berdasarkan siapa penciptanya, melainkan pada kualitas dan gagasan karya itu sendiri.
Diskusi semakin menarik ketika muncul pertanyaan tentang karya kolaboratif, karya kelompok, bahkan kemungkinan melibatkan anak-anak dalam proses berkarya.
Respons tim sosialisasi pun penuh antusias. Gagasan melibatkan anak-anak dinilai sebagai tantangan sekaligus peluang besar untuk memperluas cakupan ekosistem kriya. Hal ini membuka kemungkinan baru bahwa UNDAGI dapat menjadi ruang lintas generasi, tempat kreativitas tumbuh tanpa sekat usia maupun latar belakang.
Sesi sosialisasi ditutup dengan foto bersama yang penuh kehangatan. Setelah itu, tim diajak mengunjungi studio kriya di kampus UNESA untuk melihat langsung ruang-ruang praktik kreatif yang dimiliki kampus tersebut.
Menjelang sore, rombongan berpamitan. Namun perjalanan belum usai. Dari Surabaya, tim melanjutkan perjalanan menuju Kota Batu, Malang, untuk agenda sosialisasi berikutnya di Jawa Timur.
Kuratorial Trip #2 ini menjadi bukti bahwa semangat kriya terus bergerak, menembus batas kota, institusi, dan generasi—selaras dengan tema UNDAGI 2026: Unbound. *** (Uung-Adm)
