
Dari kiri; Ria Silviani (Moderator) dan Para Narasumber Sosialisasi Seni Ornamen 2026; Rosanto Bima Pratama, SSn., Nurohmad, SSn., dan Gandar Setiawan, MSn., serta sedang melaksanakan sosialisasi di Kampus ISI Yogyakarta, Senin, 18 Mei 2026. (Foto: Rosanto Bima Pratama).
Yogyakarta, Mei 2026 — Festival Seni Ornamen (FSO) kembali hadir sebagai ruang apresiasi, pembelajaran, dan pengembangan seni ornamen di Indonesia melalui tema “Berguru Pada Ornamen.” Festival ini diselenggarakan dalam bentuk pameran, lokakarya, wicara budaya, dan pertunjukan seni yang bertujuan merepresentasikan ulang keberadaan ornamen tradisional dan ornamen pakem di Indonesia sebagai bagian penting dari identitas budaya Nusantara.
Salah satu rangkaian awal Festival Seni Ornamen 2026 dibuka melalui kegiatan sosialisasi dan wicara publik yang dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026 di Ruang Kuliah B.3.2 Gedung B, Jurusan Kriya FSRD ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dan kurator FSO, yakni Nurohmad, Gandar Setiawan, dan Rosanto Bima Pratama. Acara tersebut terbuka untuk umum dan diikuti oleh mahasiswa, seniman, pegiat budaya, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan seni ornamen di Indonesia.
Festival Seni Ornamen berangkat dari pemahaman bahwa ornamen tidak sekadar elemen dekoratif, melainkan bagian dari sistem budaya yang menyimpan sejarah, filosofi, spiritualitas, identitas sosial, hingga pengetahuan visual masyarakat Nusantara. Melalui berbagai motif tradisional yang diwariskan lintas generasi, ornamen menjadi medium untuk membaca jejak sejarah sosial dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Solo, Cirebon, Madura, Bali, Kalimantan, hingga Papua.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua ASKRINA, Agus Sriyono, S.Sn., menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Festival Seni Ornamen 2026. Ia berharap festival ini dapat diikuti oleh para kriyawan muda agar seni ornamen semakin dikenal dan diapresiasi masyarakat sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia.

Sementara itu, programer dan kurator festival, Bima Rosanta, S.Sn., mengajak generasi muda untuk turut meramaikan Festival Seni Ornamen sebagai ruang belajar, berkarya, dan bereksplorasi dalam pengembangan seni ornamen kontemporer. Ia menyampaikan bahwa festival ini terbuka bagi para kriyawan muda dengan batas minimal usia peserta 17 tahun.
Melalui tema “Berguru Pada Ornamen,” festival ini mengajak publik untuk memandang ornamen sebagai sumber pengetahuan yang hidup dan terus berkembang. Selain menyoroti keberadaan ornamen pakem sebagai dasar visual dan filosofis, festival yang difasilitasi Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan ini juga membuka ruang bagi inovasi, improvisasi, dan pengembangan visual baru yang relevan dengan konteks seni rupa kontemporer.
Festival Seni Ornamen diharapkan menjadi wadah terbukanya perspektif kritis dan eksploratif para seniman terhadap perkembangan seni ornamen di Indonesia, sekaligus menjadi ruang dialog antara tradisi, craftsmanship, local genius, dan perkembangan seni masa kini. *** (Uung-Admin)
