
Metal In Flux; Para Kriyawan (Alvi Lufiani, Budi Hartono, Dhyani W. Hendranto, Timbul Raharjo, dan Titiana Irawani) bersama kurator Sudjud Dartanto. (Sumber Foto: Satya Bramantya)
Yogyakarta (9 Mei 2026), Pameran seni kriya logam bertajuk Metal In Flux: Crafting Tradition and Innovation resmi dibuka pada Sabtu, 9 Mei 2026, di Omah Budoyo, Yogyakarta. Pameran ini menghadirkan karya-karya dari lima kriyawan, yakni Alvi Lufiani, Budi Hartono, Dhyani W. Hendranto, Timbul Raharjo, dan Titiana Irawani, dengan kurator Sudjud Dartanto. Pameran berlangsung hingga 9 Juni 2026 dan terbuka untuk publik setiap Selasa hingga Minggu pukul 10.00–18.00 WIB.

Garin Nugroho saat membuka Pameran Metal In Flux (Sumber Foto: Askrina)
Acara pembukaan berlangsung hangat dan penuh refleksi mengenai posisi seni kriya logam dalam perkembangan seni rupa dan budaya kontemporer Indonesia. Budayawan sekaligus sineas Garin Nugroho yang hadir sebagai pembuka acara menyampaikan pandangannya mengenai sejarah panjang logam dan metal dalam peradaban manusia. Menurutnya, logam bukan sekadar material industri, tetapi medium kebudayaan yang telah menyertai perjalanan manusia sejak masa awal peradaban.
Dalam sambutannya, Garin Nugroho menjelaskan bahwa logam memiliki filosofi transformasi, sesuatu yang keras namun dapat ditempa, dibentuk, dibakar, dan dilahirkan kembali menjadi berbagai bentuk kehidupan artistik maupun fungsional. Ia melihat karya-karya dalam Metal In Flux sebagai upaya membaca ulang hubungan manusia dengan material, teknologi, serta tradisi yang terus bergerak mengikuti zaman.

Ketua Askrina (Agus Sriyono) bersama Suwarno Wisetrotomo. (Sumber Foto: Askrina)
Sementara itu, pengamat seni rupa dan tuan rumah acara, Suwarno Wisetrotomo, menyoroti persoalan stigma terhadap dunia seni kriya. Dalam pidatonya, ia menolak pandangan lama yang menempatkan seni kriya hanya sebatas keterampilan teknis dan anggapan bahwa seni kriya terkooptasi oleh dunia industri.
Menurut Suwarno Wisetrotomo, seni kriya adalah praktik artistik yang memiliki gagasan, refleksi budaya, serta kedalaman konseptual yang setara dengan cabang seni lainnya. Ia menegaskan bahwa kriya tidak boleh terus-menerus terkooptasi oleh cara pandang industri yang hanya melihat nilai guna dan pasar, tanpa membaca dimensi estetik maupun pemikiran di balik karya.
“Ketika kriya hanya dipahami sebagai keterampilan tangan, maka kita kehilangan cara membaca pengetahuan, pengalaman budaya, dan sensibilitas artistik yang hidup di dalamnya,” ungkapnya di hadapan para tamu undangan dan pelaku seni yang hadir.
Dalam wawancara terpisah, Ketua Askrina menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para kriyawan yang terlibat dalam pameran Metal In Flux. Ia berharap momentum pameran ini dapat menjadi stimulus dan penyemangat bagi kriyawan lain untuk terus berkarya, bereksperimen, serta menghadirkan inovasi baru dalam dunia seni kriya Indonesia.
Menurutnya, pameran seperti Metal In Flux menjadi ruang penting untuk memperlihatkan bahwa kriya memiliki posisi strategis dalam perkembangan seni dan budaya kontemporer, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas antara tradisi, material, dan gagasan artistik.
Pameran Metal In Flux sendiri menghadirkan eksplorasi artistik berbasis logam dengan pendekatan yang beragam, mulai dari bentuk-bentuk eksperimental, eksplorasi material bekas, hingga tafsir baru terhadap objek keseharian. Karya-karya yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana seni kriya logam mampu bergerak di antara tradisi, desain, seni rupa kontemporer, dan wacana budaya yang terus berubah.
Pembukaan pameran juga dimeriahkan oleh penampilan Paranoise Activity bersama Nanang Garuda and Friends, yang menghadirkan atmosfer eksperimental dan energetik selaras dengan semangat transformasi yang diusung pameran ini. (Uung- Humas Askrina)*






