
Oleh: Dr. Akhmad Nizam, MSn.
Berdasarkan penelitian sejarah dan perbandingan agama khususnya di Asia, terdapat konsep Dunia Besar (Makrokosmos) yaitu alam semesta, dan Dunia Kecil (Mikrokosmos). Konsep ini memunculkan pandangan adanya poros atau axis mundi pada titik pusat (the centre). Titik pusat ini penting karena merupakan terpusatnya kekuatan ghoib yang kemudian tersebar ke segala arah. Poros atau axis mundi ini diwujudkan menjadi lambang Gunung, Tangga dan Pohon. Gunung menjadi tangga naik ke dunia dewa-dewa, lalu terdapat sebatang Pohon [kehidupan] akarnya berada jauh di dunia bawah, sedangkan cabang-cabangnya mencapai sorga (Sedyawati, 2013: 3-4). Ada ornamen yang terus diperagakan sejak masuknya pengaruh Hindu India sampai sekarang yaitu ornamen sulur gelung teratai. Sulur gelung yang meregang vertikal bergulung terus menerus pada dasarnya menggambarkan Tangga, yaitu tangga naik, sebuah tangga spiral. Dalam satu gulungan teratai menggambarkan satu siklus kehidupan samsara kelahiran kematian kemudian terlahir kembali. Jika seseorang dalam hidupnya menjalankan Dharma dengan baik, maka ia akan terlahir kembali naik satu tingkat gulungan, begitu juga sebaliknya. Sebagai artefak budaya ornamen sulur gelung teratai mewakili gagasan penciptaan dan peleburan alam semesta, mewakili gagasan waktu kemunculan dan kelenyapan, reinkarnasi yang berulang-ulang atau menggambarkan perputaran roda cakra dharma. Sebagai gagasan penciptaan karya, perputaran roda Cakra dapat dimaknai sebagai pelestarian estetika dan pengabadian masa lampau. Dalam hal ini budaya masa lampau tidak hanya dijadikan sebagai referensi visual, tetapi penegas identitas atas literasi budaya.
Agama Hindu mengajarkan bahwa hanya ada SATU Realitas Tertinggi yaitu Brahman yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Brahman menjadi sumber segala sesuatu di alam semesta. Brahman adalah Pencipta, Pemelihara dan Penghancur semesta, sekaligus dapat menjelma (ber-Isvara). Brahman sebagai Isvara Viu menjadi personifikasi atribut Kebahagiaan (ananda), dewa pemelihara dunia dan kerap turun untuk menolong dunia dari kehancuran. Laksana Viu (tandatanda khusus) diantaranya adalah Cakram atau Cakra melambangkan keinginan untuk melipatgandakan. Dalam ikonografi Hindu biasanya ditampilkan dalam bentuk segi enam, enam titik dari dua segitiga tersebut lambang dari enam musim dalam siklus waktu tahunan. Roda cakra ini hanya memiliki satu pusat tetapi konon memiliki seribu jari-jari (Achari, 2015: 24). Perputaran roda cakra adalah simbol Dharma yang berputar, lambang siklus abadi Samsara — kelahiran dan kematian yang berulang tanpa henti (Achari, 2015: 16). Tujuan spiritual tertinggi umat Hindu adalah mencapai moksha (pembebasan) dari samsara, namun pada intinya cakra adalah senjata, kecepatannya lebih cepat dari kecepatan pikiran yang menghancurkan musuh secara menyakitkan.
Identitas budaya tidak cukup secara sederhana dengan memberi pemahaman tentang identitas melalui artefak masa lalu atau bentuk fisik cagar budaya. Memang cagar budaya dapat dimaknai atau ditafsirkan sebagai salah satu identitas budaya, namun tidak semua masyarakat memiliki perspektif yang sama. Selama mencermati seni ornamen, motif sulur gelung inilah yang menjadi candu atau monad, yang menjadi kegemaran dan sudah diperagakan sejak masuknya kebudayaaan India pada candi-candi HinduBuddha, kemudian tetap diperagakan pada era Islam Masa Peralihan, bahkan masih diperagakan
sampai sekarang dalam batik Trusmi Cirebon. Sulur gelung teratai yang
diperagakan pada masa Islam, bentuknya relatif sama namun mengusung konsep penciptaan yang berbeda. Adapun konsepnya adalah Tunjung Tanpa Telaga. Tunjung tanpa telaga adalah bunga tunjung (teratai) yang dapat hidup tanpa air telaga atau teratai yang meninggalkan lumpur hitam dunia. Hal ini merupakan kebalikan dari konsep Seni Kosmologi Air Hindu yang digagas oleh Coomaraswamy (1931: 57). Teratai yang meninggalkan air telaga akan mati, namun Tuhan yang akan menghidupi teratai sampai teratai berhenti meng-Ada. Dengan demikian ornamen sulur gelung teratai pantas mewakili kekunoan, keusangan artistik serta menjadi identitas budaya masa lampau yang dapat digubah menjadi gaya klasik.
Semua bentuk dan ekspresi budaya saat ini [kontemporer] dipastikan mengambil sesuatu dari masa lampau (Guffey, 2006: 15). Nostalgia masa lalu sebagai sumber inspirasi merupakan kecenderungan akan ungkapan citarasa pribadi dan ungkapan identitas budaya atau sebuah gaya ungkap keusangan artistik, akan tetapi tidak berarti gaya lama atau kuno, namun gaya klasik yang abadi.
Trend Forecast & life style sekarang ini diantaranya mengusung gaya Vintage dan Etno-Kultur. Ada beberapa varian Vintage, misalnya vintage klasik, modern vintage dan vintage fur yang hadir menampilkan kejujuran material, tampil apa adanya. Vintage adalah gaya yang menawarkan aspek romantik pada masa lalu, menghadirkan kembali ketenangan dan kenangan indah tak terlupakan. Sementara itu gaya Etno-Kultur mengeksplorasi kesefahaman dan penghargaan pada padu padan tanda-tanda identitas budaya (Kementerian Koperasi, 2015: viii). Baik Vintage maupun Etno-Kultur tidak lain adalah Retro yang pada dasarnya berhutang pada nostalgia (romantisisme) masa lalu. Retro merupakan pandangan hidup dan melalui retro nilai dan adat istiadat masa lalu dilekatkan untuk mengabadikan masa lampau. Retro memikirkan dan merayakan masa lampau dan melalui retro inilah nilai kearifan tradisi masa lalu dan identitas budaya dapat disematkan.
Walakin perputaran roda cakra sebagai inspirasi karya pada dasarnya menyatakan gagasan bahwa hidup seperti roda berputar, kadangkala berada di puncak kadangkala berada di bawah. Tidak ada kepastian yang dapat dikendalikan manusia, karena kepastian yang ada adalah ketidakpastian dalam perubahan. Adanya perubahan dalam kehidupan agar manusia sejenak merenung, untuk menjaga perilaku dan fikiran pada saat ini untuk masa depan yang melahirkan kesadaran diri. Perputaran roda cakra juga memiliki arti berputarnya waktu, bahwa semua yang ada akan berubah. Yang tadinya baik dapat berubah menjadi buruk. Yang tadinya buruk dapat menjadi baik. Yang tadinya usang ditinggalkan sekarang dirindukan kembali untuk menghadirkan ketenangan dan kenangan indah tak terlupakan. Sekali lagi roda cakra berarti perubahan, berarti siklus yang pada akhirnya melahirkan introspeksi diri seiring berjalannya waktu. Dengan demikian perputaran roda cakra pada karya kriya dapat hadir dalam beragam modus, seperti repetisi gaya (reproduksi atau imitasi), reinterpretasi, kreasi dan/atau konstruksi dan reproduksi budaya.
Daftar Pustaka :
Achari, Pandit Sri Rama Ramanuja. Hindu Iconology: The study of the
symbolism and meaning of Icon. Simha Publications: www.australiancouncilofhinduclerg y.com, 2015.
Coomaraswamy, Ananda K. Yaksas: Part II. Washington,D.C.: Smithsonian Institution Freer Gallery of Art, 1931.
Guffey, Elizabeth E. Retro: the Culture of Revival. London: Reaktion Books, 2006.
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Modul Aplikasi Tren Desain Produk Home Furnishing. Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, 2015.
Sedyawati, Edi., Hariani Santiko, Hasan Djafar, Ratnaesih Maulana, Wiwin Djuwita Sudjana Ramelan, dan Chaidir Ashari. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013.
