
Sosialisasi UNDAGI 2026 di Batu, Malang. (Foto: Arif S)
Malang, 13 Juni 2026 — Perjalanan panjang tampaknya belum mampu mengurangi semangat tim sosialisasi UNDAGI 2026. Meski tenaga terkuras setelah menyelesaikan agenda di Surabaya, rasa lelah seolah terbayar oleh antusiasme yang terus tumbuh di setiap titik perjalanan.
Selepas sosialisasi di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), tim langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Batu, Malang, dengan tujuan Studio Matahati Keramik—lokasi Kuratorial Trip #3.
Sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan tiba di studio yang berada di kawasan berhawa sejuk khas Batu, Malang. Udara dingin malam itu seakan ikut menenangkan tubuh dan pikiran setelah perjalanan panjang.
Setibanya di sana, tim disambut hangat dan disediakan tempat menginap berupa homestay yang nyaman. Tempat yang asri namun hangat itu menjadi ruang istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga sekaligus menghimpun “amunisi” bagi agenda sosialisasi keesokan harinya.
Pagi tiba dengan suasana khas Batu yang segar. Sebelum memulai agenda utama, tim menikmati sarapan sambil menyerap denyut kehidupan kota yang tenang dan sejuk. Kembali ke homestay, suasana santai penuh senda gurau mengiringi waktu menunggu kedatangan peserta.

Sekitar pukul 10.30 WIB, acara sosialisasi resmi dimulai. Kegiatan dibuka oleh Bapak Arif, pemilik Studio Matahati Keramik, yang menyampaikan sambutan hangat kepada para peserta dan tim UNDAGI.
Sesi kemudian dilanjutkan oleh tim sosialisasi. Ketua UNDAGI, Dr. Arif Suharson, memulai pemaparan dengan gaya penyampaian yang ringan namun substansial. Suasana yang semula formal beberapa kali mencair oleh gelak tawa peserta, membuat diskusi terasa akrab dan hidup.
Dalam presentasinya, ia menjelaskan apa itu UNDAGI, sejarah perjalanan pameran dari tahun ke tahun, hingga visi penyelenggaraan UNDAGI 2026. Ia juga memaparkan mekanisme partisipasi, mulai dari sistem open call, proses seleksi, hingga bagaimana seniman dapat terlibat melalui jalur undangan.
Sesi berikutnya diisi oleh Ketua ASKRINA, Agus Sriyono, SSn., yang memperkenalkan organisasi tersebut beserta ruang lingkup dan program kerjanya. Ia menegaskan pentingnya memperluas jejaring kriyawan di berbagai daerah, termasuk di Malang Raya.
Dalam kesempatan itu, Agus mengajak para pelaku kriya di Malang untuk bergabung dengan ASKRINA dan mendorong terbentuknya Pakriyan sebagai simpul gerakan kriya di wilayah tersebut. Harapannya, Malang dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekosistem kriya yang aktif dan progresif di Jawa Timur.
Memasuki sesi kuratorial, Nurohmad, SSn., sebagai tim kurator UNDAGI mulai menguraikan tema utama UNDAGI 2026: “Unbound.”
Ia membuka diskusi dengan menyoroti pemahaman yang selama ini sering menyempit tentang istilah undagi. Menurutnya, undagi tidak semata berkaitan dengan keterampilan teknis atau bangunan tradisional. Lebih dari itu, undagi merupakan ilmu yang berbicara tentang harmoni dan keselarasan antara manusia, ruang, material, dan alam.
Nurohmad juga mengulas konsep Asta Kosala Kosali, pengetahuan tradisional yang membahas tata ruang, arsitektur rumah, hari baik, pola ukur, hingga praktik-praktik kriya. Dalam naskah lontar tersebut, sosok master kriya dikenal dengan sebutan Sangging—figur yang bukan hanya menguasai teknik, tetapi juga memahami nilai, ukuran, dan makna budaya.

Para Kriyawan peserta Sosoalisasi Pameran UNDAGI 2026 di Batu Malang. (Foto: Arif S.)
Masuk pada tema Unbound, Nurohmad menjelaskan bahwa konsep ini berbicara tentang sikap dalam berkarya: merdeka, bebas, melepaskan diri, dan tidak terikat. Namun kebebasan, menurutnya, bukanlah kebebasan tanpa fondasi.
Seorang kriyawan tetap harus memiliki pemahaman mendalam terhadap material, penguasaan teknik, sensitivitas terhadap konteks, serta kesadaran atas nilai-nilai budaya. Dari sanalah kriya tidak hanya menjadi hasil keterampilan tangan, tetapi juga bentuk penguasaan pengetahuan.
Tema Unbound, lanjutnya, menyediakan ruang untuk melakukan rethinking, baik pada aspek hardware maupun software dalam praktik kriya. Semua dapat diolah ulang secara re-creative, sehingga melahirkan karya-karya yang bukan hanya relevan, tetapi juga mampu menandai semangat zamannya. Bahkan, dalam perspektif yang lebih jauh, Unbound membuka kemungkinan untuk membayangkan—bahkan meramalkan—bentuk kriya masa depan.
Pemantik-pemantik yang disampaikan tim UNDAGI sukses membakar gairah para peserta. Diskusi berkembang semakin tajam dan hangat. Salah satu pertanyaan yang terus muncul adalah: “Seperti apa sebenarnya karya yang bisa disebut unbound?” Pertanyaan tersebut membawa diskusi ke ranah yang sangat konkret.
Salah satu peserta bahkan membawa karya secara langsung untuk dipresentasikan dalam forum: sebuah wayang pesut, yang secara bentuk mengingatkan pada wayang golek. Karya tersebut kemudian menjadi bahan diskusi menarik—dibedah dari aspek bentuk, gagasan, konteks budaya, hingga potensinya dalam kerangka Unbound.
Momen itu menjadi bukti bahwa sosialisasi UNDAGI bukan sekadar forum presentasi satu arah, melainkan ruang dialog yang hidup, tempat gagasan diuji dan diperkaya bersama.
Setelah sesi resmi berakhir, suasana berlanjut dalam nuansa yang lebih cair melalui ramah tamah sambil menikmati hidangan khas Batu, Malang. Di sela-sela makan dan minum, percakapan tentang karya-karya para seniman tetap berlangsung hangat.
Diskusi tentang ide, material, dan proses kreatif terus mengalir tanpa sekat formalitas. Begitulah kehangatan yang tumbuh sepanjang pertemuan itu—bukan hanya sebagai agenda sosialisasi, melainkan sebagai perjumpaan antar-gagasan, antar-praktik, dan antar-semangat untuk terus menghidupkan kriya.
Kuratorial Trip #3 di Malang sekali lagi menegaskan bahwa semangat UNDAGI 2026 terus bergerak—melintasi kota, studio, komunitas, dan generasi—membawa satu pesan yang semakin kuat: “Kriya akan terus hidup selama ia berani bergerak, berpikir ulang, dan melampaui batas.”; Unbound. (Uung-Adm)
